Ekspedisi Gerakan Anak Negeri Edisi Baduy 4, Pisah Rumah Tiga Hari Tiga Malam

TENTENG HADIAH: Mengenakan pakaian khas Baduy, CEO Radar Bogor Grup, Hazairin Sitepu menghadiri sesi pernikahan yang diselenggarakan di tanah Baduy.

Oleh Hazairin Sitepu

SELEPAS pukul 06:00 lorong depan rumah sudah ramai. Saya melihat banyak pemuda, remaja, dan gadis-gadis Baduy berlalu lalang. Semua berpakaian sama. Laki-laki bercelana dan berbaju hitam dengan ikat kepala berwarna biru. Perempuan berkebaya warna hitam dengan bawahan (sarung) berwarna biru.
Para pemuda dan remaja pria memikul barang-barang yang terbungkus daun palem berwarna kuning. Di pinggang sebelah kiri semua mereka terselip golok bersarung. Para gadis dan remaja putri menjunjung barang-barang yang terbungkus daun pisang berwarna hijau.

Mereka berjalan cepat naik-turun lorong bebatuan pergi dan kembali. Ada di antara remaja yang bahkan jalannya setengah berlari. Orang-orang Baduy begitu keluar dari rumah berjalannya memang sangat cepat.
Barang-barang itu dibawa ke lapangan kecil di tengah kampung. Lalu dititipkan di beberapa rumah di situ. Jumlahnya banyak. Sebanyak jumlah kepala keluarga yang ada di Kampung Cibogoh. Di lapangan kecil itu pukul 09:00 nanti, Santi dan Agus dinikahkan.

Seperti apa pernikahan adat di Baduy? Santi dan Agus nantinya berpakaian seperti apa? Semua masih misteri. Karena ini kali pertama saya dan teman-teman anggota ekspedisi menghadiri pernikahan adat di Baduy.

Cuaca di Baduy pagi hari itu sangat cerah. Matahari menyorot tajam sinarnya ke seluruh Cibogoh. Pohon-pohon tinggi di pinggir kampung pun terdiam. Batu-batu tidak selicin petang kemaren, atau pun tadi malam. Angin pagi hari itu memang tidak bertiup di Cobogoh. Hujan pun tidak menetes.

Tinggal satu dua orang yang masih tampak berlalu-lalang di lorong depan rumah. Saya bergegas. Mengenakan celana berwarna hitam. Baju lengan panjang berwarna hitam. Totopong (ikat kepala) berwarna biru. Menyelipkan golok bersarung di pinggang sebelah kiri. Saya sudah mirip orang Baduy.

Sehabis sarapan saya dan anggota ekspedisi menuju lapangan. Sudah banyak orang berkumpul di sana. Semua berpakaian Baduy. Berdiri mengelilingi lapangan berukuran setengah lapangan futsal itu. Sebagian lagi duduk di serambi rumah-rumah yang adanya di sekeliling lapangan.

Bagian tengah lapangan, kira-kira dua pertiga, beralaskan tikar. Bagian bawah tikar ada dua atau tiga lapis daun pisang. Ini untuk menghalangi tikar dari terkena becek. Seluruh permukaan lapangan itu memang tanah liat, yang sejak siang kemarin sampai tadi malam agak becek, disiram hujan.

Pukul setengah sembilan, suasana semakin ramai. Ratusan orang berdiri rapat mengitari lapangan. Serambi rumah-rumah di sekeliling lapangan pun makin penuh orang. Seisi kampung Cibogoh memang tumpah ke lapangan itu.

Cibogoh yang pada subuh hari sangat dingin, pagi hari itu sejuk. Termasuk di lapangan. Karenanya meski tempat pernikahan Santi dengan Agus itu tanpa tenda, terbuka alami, tetap sejuk. Baduy memang memegang teguh filosofi orisinalitas.

Menjelang pukul 09:00, tampak rombongan orang turun melalui jalan dari atas bukit. Dari arah Timur. Laki-laki, perempuan, berbagai usia. Seperti berbaris, menuju lapangan. Perempuan-perempuan dewasa membawa semacam mangkok entah berisi apa. “Sirih pinang,” kata seorang pemuda berpakaian Baduy menjawab saya.

Di antara rombongan itu, ada dua orang yang paling menonjol. Satu laki-laki muda dan satu perempuan muda. Laki-laki mengenakan sarung berwarna biru. Sarung itu diselimutkan menutupi mulai dari betis sampai leher, kecuali di bagian depan (perut sampai leher) dibiarkan terbuka. Lalu ada mahkota yang melingkari kepalanya.

Perempuan muda itu mengenakan busana warna biru. Baju yang tampak seperti tidak dijahit itu menutupi badannya yang mungil. Kecuali dua tangannya dibiarkan terbuka sampai ketiak. Mahkota di kepalanya membuat gadis Baduy ini sangat cantik.

Inilah Santi dan Agus. Gadis dan perjaka Baduy ini sebentar lagi dinikahkan. Santi berumur 20 tahun. Agus berumur 22 tahun. Keduanya sama-sama mengenakan mahkota. Bingkainya bambu dengan hiasan uang mulai dari nominal Rp1.000 sampai dengan Rp100.000.

Kalung emas ditambah satu kalung benang Baduy berwarna cokelat tampak melingkar di leher Santi. Gadis Cibogoh ini tampak jauh lebih cantik dibanding ketika dia menyambut kadatangan saya hari Minggu sore. Kalung cokelat benang juga tampak tergantung di leher Agus.

Begitu tiba di lapangan, rombongan duduk dengan posisi Santi dan Agus di tengah. Santi di sebelah kiri dan Agus di sebelah kanan. Lalu rombongan perempuan semua usia duduk berjejer di sebelah kiri Santi. Rombongan laki-laki duduk berjejer sebelah kanan Agus.

Kokolot mulai sibuk. Posisi duduk Santi dan Agus yang tadinya berjarak kira-kira lebih dari setengah meter, dirapatkan. Ada benda berupa tabung warna putih pun dibuka. Lalu benda warna putih sebesar apel Malang dalam tabung itu dikeluarkan.

Ternyata itu kain putih yang membungkus sesuatu berwarna putih pula. Dibuka pelan-pelan. Dan ternyata isinya gulungan benang berwarna putih. Benang itu kemudian dililit-lilitkan ke tangan kanan Santi, lalu ke tangan kanan Agus.

Kokolot kemudian mendempetkan kepala Santi dan kepala Agus. Ia lalu membaca sesuatu. Mirip dukun membaca mantra. Suasana makin hening. Semua mata tertuju kepada kokolot, Santi dan Agus. Kokolot kemudian meniup kepala Santi dan kepala Agus yang masih dempet itu. Kokolot itu penghulu nikah.

Tiba-tiba saja ada yang menghamburkan uang receh ke tengah lapangan. Juga uang kertas nominal dua ribuan. Lalu ratusan orang yang sedari tadi terdiam berdiri dan duduk di situ pun heboh berhamburan ke seisi lapangan. Rebutan uang.

Saya pun ikut menyawer. Sebelumnya sudah diberi tahu supaya menyiapkan uang untuk saweran. Suasana semakin heboh. Acara ini memang bernama Saweran. Dan acara sakral pernikahan adat Santi dan Agus pun selesai.

Pengantin lalu bergeser dari lapangan ke satu rumah di sebelah Barat. Kira-kira 15 meter dari tempat pernikahan. Santi dan Agus harus menghadiri satu acara penting lagi di sini. Acara penerimaan kado.
Kadua mempelai berdiri di depan rumah yang menghadap ke Utara. Lalu datang secara bergantian puluhan warga Cibogoh menyerahkan kado kepada pengantin baru itu. Siapa saja boleh memotret atau mengambil video di acara ini, yang pada pernikahan sama sekali dilarang.

Masih ada satu acara lagi: pembagian congcot. Dalam budaya Sunda, congcot adalah semacam nasi tumpeng berbentuk kerucut berukuran kecil. Congcot dibagikan ke rumah-rumah setelah acara penerimaan kado. Saya melihat banyak pemuda mengantar congcot ke rumah-rumah di Kampung Cibogoh itu.

Setelah semua acara selesai, Santi dan Agus pulang ke rumah orang tua masing-masing. Tidak boleh berkumpul meski sudah menikah. Meski sudah sah sebagai suami dan isteri.

Nanti setelah tiga hari tiga malam, dihitung mulai dari waktu pernikahan, Agus baru boleh datang menjemput Santi di rumah orang tuanya. Agus baru boleh membawa Santi ke rumah keluarganya untuk menjalani hidup sebagai suami-isteri dalam satu rumah. Baru memulai hidup berumah tangga.
Begitulah adat Baduy. Unik dan penuh pembelajaran. Selamat menempuh hidup baru Santi dan Agus. (selesai)