Polisi Itu Polisi

Hazairin Sitepu

Oleh Hazairin Sitepu

BRIGADIR Novriansyah Joshua Hutabarat ditembak berkali-kali sampai mati. Kata polisi, ada tujuh luka tembak. Ada pula luka bukan akibat kena peluru. Jenazahnya sudah dikuburkan. Nanti digali lagi untuk ekshumasi atau otopsi ulang.

Apakah Brigadir Joshua dibunuh di dalam mobil dalam perjalanan Magelang-Jakarta atau di rumah dinas Kadiv Propam Mabes Polri? Apakah Brigadir Joshua sudah meninggal ketika masih di mobil, atau setelah berada di rumah dinas pejabat tinggi Polri itu?

Penyidik perlu merangkai cerita komprehensif mulai dari Magelang sampai dengan di rumah dinas. Juga merangkai cerita mulai dari rumah dinas sampai di Magelang. Cerita ketika pulang dan pergi.

Cerita itu penting untuk menemukan fakta-fakta apakah benar pembunuhnya adalah Bharada E, atau bukan Bharada E. Cerita itu penting untuk menemukan motif di baliknya. Cerita itu penting untuk menentukan dengan pasal apa nanti pelakunya dihukum.

Penyidik bekerja memang untuk menemukan fakta-fakta hukum. Dan fakta-fakta hukum itulah akan membatalkan fakta-fakta karangan. Yang disebut-sebut baku tembak antara Brigadir Joshua dengan Bharada E, apakah fakta hukum atau fakta karangan? Hasil ekshumasi dan hasil penyidikan akan membuktikan itu.

Fokus dari tulisan ini sebenarnya bukan cerita itu. Tetapi Brigadir Joshua itu seorang anggota polisi. Dia mati terbunuh di rumah dinas pejabat tinggi polisi. Kalau dibunuh dalam mobil, itu juga di mobil pejabat tinggi polisi. Menggunakan senjata polisi.

Fakta ini memunculkan anggapan bahwa polisi tidak aman di rumah polisi. Polisi tidak aman di mobil polisi. Anggota polisi tidak aman di rumah pejabat tinggi polisi. Anggota polisi tidak aman di mobil pejabat tinggi polisi.

Pembunuhan Brigadir Joshua ini mungkin saja menerjunkan derajat kepercayaan masyarakat kepada polisi ke jurang sangat dalam. “Kepada anggota polisi saja sebegitu sadisnya, bagaimana dengan rakyat.”
Omongan itu mungkin saja tidak ada di mana-mana. Tetapi paling tida, ada dalam diskusi-diskusi kami di warung kopi.

Derajat kepercayaan kepada kepolisian mungkin baru akan naik kembali bila fakta-fakta kasus besar ini dibuka sejelas-jelasnya, seterang-terangnya, sejujur-jujurnya. Jelas, terang dan jujur terhadap fakta-fakta, terhadap siapa pelaku sesungguhnya, terhadap motifnya.

Harapan besar memang kita taruh di pundak Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Dan pernyataan-pernyataan Jenderal Sigit dalam kasus ini memang memberikan keyakinan bahwa akan ada kejujuran, keterbukaan dan keadilan dalam pengungkapannya.

Karena polisi itu fungsinya memelihara keamanan dan ketertiban, menegakkan hukum, melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat. Dan…polisi itu memang polisi.

** Hazairin Sitepu pernah menjadi wartawan hukum dan kriminal Harian Fajar, Makassar. Mantan Ketua Seksi Wartawan Hankam PWI Sulsel. Mantan pemimpin redaksi. Kini CEO Radar Bogor Grup.