Lima Fakta (Baru) Jurnalistik Brigadir J

CEO Radar Bogor Grup, Hazairin Sitepu,meliput langsung eskhumasi atau otopsi ulang jenazah Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J.

Laporan Hazairin Sitepu dari Muaro Jambi

Ada berapa fakta terbaru dari hasil eskhumasi atau otopsi ulang jenazah Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J?

Apakah fakta-fakta itu membuka bungkusan besar atau menunjukkan kembali apa-apa yang sudah ramai disebut?

Otopsi ulang di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sungai Bahar Muaro Jambi itu hari Rabu. Mulai pukul 09:00 WIB. Pukul 13:00 dikabarkan sudah selesai, tetapi peti jenazah baru keluar dari ruang otopsi pukul 15:10.

Jika dihitung dari mulai jenazah masuk ruang otopsi, maka penelitian para ahli forensik berbagai lembaga itu memakan waktu empat jam.

Tetapi ada kabar dari ruang otopsi bahwa eskhumasi sesungguhnya baru dimulai pukul 10:00. Pukul 09:00 sampai dengan pukul 10:00 adalah pembersihan jenazah dari terlalu banyaknya kadar formalin. Berarti hanya tiga jam.

Saya adalah satu dari banyak wartawan yang menunggu hasil otopsi itu. Tetapi Dokter Forensik Ade Firmansyah belum mau mengungkap hasil sesungguhnya.

“Sampel-sampel yang dikumpulkan akan diperiksa lagi di laboratorium secara microscopis,” ketua tim forensik otopsi ulang itu mengatakan ketika memberikan keterangan pers di RSUD Sungai Bahar, Rabu sore.

Jhonson Panjaitan, anggota tim Kuasa Hukum keluarga Brigadir J, mengatakan bahwa otopsi ulang membuka semua kebenaran.

“Mari kita berdoa agar apa yang kita lakukan sekarang membongkar semua kebenaran. Dan Tuhan berperan..” katanya kepada wartawan di depan ruang otopsi RSUD Sungai Bahas, Rabu sore.

Jhonson memang berada di ruang otopsi bersama Kuasa Hukum lain dan keluarga dekat Brigadir J. Juga ada dari Komnas HAM dan Kompolnas.

Apa yang dikatakan Jhonson itu bisa disebut sebagai fakta jurnalistik bahwa ada bungkusan yang terbuka dalam ruang otopsi ulang.

Fakta jurnalistik kedua, jenazah Brigadir J yang sudah diotopsi ulang itu dipakaikan baju dinas Polri. Fakta ini diungkap Jhonson kepada wartawan.

Fakta jurnalistik ketiga, peti jenazah dibungkus bendera merah-putih. Lalu peti itu dipikul kurang-lebih delapan anggota polisi dari Samapta Polres Muaro Jambi.

Fakta jurnalistik keempat, penyerahan jenazah dari keluarga ke Kepolisian dilakukan dalam upacara resmi kedinasan.

Fakta jurnalistik kelima, ada empat pucuk senjata yang dibawa ke kuburan. Kemungkinan akan digunakan untuk tembakan salvo ketika penguburan jenazah Brigadir J.

Tembakan salvo tujuh kali ke udara biasanya sebagai penghormatan secara militer kepada jenazah yang akan dikuburkan. Kalau kepada Brigadir J, lebih tepat sebagai penghormatan kedinasan.

Perlakuan kepada jenazah Brigadir J. Rabu sore kemaren boleh jadi mencerminkan bahw dia gugur sebagai polisi yang baik. Bukan tewas dalam baku-tembak akibat pelecehan istri komandan.(**)