10 Siswa SMPN 2 Cianjur Bakal Belajar di Jepang

Pertemuan Pemkab Cianjur bersama dua orang perwakilan pemerintah Kota Yachimata, Jepang.

RADARCIANJUR.com- Pemkab Cianjur melalui Dinas Pendidikan Pemuda Olahraga (Disdikpora) Cianjur melakukan pertemuan dengan pemerintah Kota Yachimata, Jepang untuk program pertukaran pelajar di Pendopo, Sabtu (30/07/2022).

Diketahui pertemuan pemerintah beda negara itu membahas mengenai persiapan program yang salah satunya memperkenalkan kebudayaan kota masing-masing melalui pertukaran pelajar SMP.

SMPN 2 Cianjur berkesempatan untuk mengirimkan 10 siswa siswi terbaiknya untuk mempromosikan pendidikan dan kebudayaan Cianjur dan sebaliknya dengan siswa siswi dari kota Yachimata Jepang yang akan datang ke Cianjur.

Kabid SMP Disdikpora Cianjur Helmi Halimudin mengatakan, Bupati Cianjur H. Herman Suherman telah menerima perwakilan sebanyak dua orang dari Pemerintah Kota Yachimata Jepang.

Kemudian disepakati pertukaran pelajar akan dilakukan selama seminggu lebih dan disepakati
selama di Jepang keperluan siswa siswi SMPN 2 Cianjur kebutuhannya akan di biayai oleh orangtua siswa Jepang yang datang ke Cianjur.

“Jadi kemarin pihak Disdikporanya kota Yachimata, Jepang ada dua orang datang yaitu Mr Yoshida dan Mr Yamata dan telah menyepakati lama waktunya pertukaran pelajar selama 10 hari,” katanya.

Pihak Kota Yachimata Jepang pun sudah melakukan persiapan sebagai tanda keseriusan bekerjasama dengan pemerintah Kabupaten Cianjur mengenai pertukaran pelajar.

“Malah di Jepang itu di kantor kerjasamanya sudah di buat kantor promosi Kabupaten Cianjur,” ungkapnya.

Mengenai jadwal pasti keberangkatan siswa dan siswa SMPN 2 Cianjur saat ini, Disdikpora Cianjur tengah menunggu.

“Sebelum keberangkatan akan melakukan zoom pertemuan zoom meeting dulu antara siswa Cianjur dengan siswa Jepang. Baru nanti di tentukan tanggal pasti keberangkatannya,” terangnya.

Sementara itu Bupati Cianjur H.Herman Suherman mengatakan, selain pertukaran pelajar, Pemkab Cianjur juga membicarakan studi tiru pertanian Jepang yang mempertahankan tradisi bertani yang saat ini sudah dibantu dengan teknologi.

“Jepang itu melarang mengimpor buah-buahan karena untuk mempertahankan dan mendukung para petani lokal agar mendapatkan kesejahteraan dari hasil produk pertaniannya,” tandasnya. (byu)