Darurat Cacar Monyet, IDI Bentuk Satgas Khusus

Ilustrasi sampel hasil tes cacar monyet (Dado Ruvic-Reuters)

RADARCIANJUR.com – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) membentuk satgas khusus monkeypox atau cacar monyet di Indonesia. Satgas tersebut terdiri dari ahli profesi spesialis.

Hal tersebut dilakukan menanggapi status darurat cacar monyet yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

BACA JUGA : Dinkes Cianjur : Cacar Monyet Rentan Tulari Ibu Hamil

Ketua Satgas Monkeypox Hanny Nilasari mengatakan, Satgas Monkeypox melibatkan 5 organisasi profesi kedokteran, yang terdiri dari Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam (Papdi), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit Indonesia (Perdoski), Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (Pamki), serta Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinis dan Kedokteran Laboratorium Indonesia (PDS Patklin). Semua ditugaskan untuk mendeteksi pasien dengajln gejala cacar monyet.

“Kami memberikan rekomendasi yang telah disusun Satgas Monkeypox dan juga PB IDI bagi pemerintah Indonesia serta tenaga kesehatan,” katanya dalam konferensi pers, Selasa (2/8).

IDI meminta pemerintah memperluas dan memperketat skrining pada pintu masuk pelabuhan, bandara, dan pos lintas batas darat negara (PLBDN) dengan melakukan pengawasan terhadap pelaku perjalanan melalui pengamatan suhu, pengamatan tanda dan gejala. Pada pelaku pejalanan dengan kondisi demam, sebaiknya dilakukan pemeriksaan langsung oleh dokter yang bertugas pada pelabuhan, bandara, ataupun PLBDN tersebut.

Pemerintah diminta meningkatkan kemampuan laboratorium jejaring dalam diagnostik molekular spesimen pasien yang dicurigai menderita Monkeypox sesuai rekomendasi WHO. Kemudian pemerintah juga diminta meningkatkan edukasi kepada masyarakat terkait epidemi, gejala, cara penularan, dan langkah pencegahan pribadi dan masyarakat.

Pemerintah didorong meningkatkan kemampuan dalam identifikasi kontak erat pada pasien suspek dan probable monkeypox. Dan juga agar memberi informasi terkini kepada masyarakat mengenai situasi Monkeypox secara berkala dan transparan untuk mencegah terjadinya kepanikan akibat kesimpangsiuran berita.

Nakes diminta segera melaporkan ke dinas kesehatan setempat apabila terdapat kasus sesuai dengan kriteria suspek atau probable monkeypox. Nakes juga diminta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan klinis dalam pendekatan diagnosis serta tatalaksana monkeypox untuk meningkatkan kewaspadaan pada pasien dengan gejala klinis sesuai dengan monkeypox dan mencegah komplikasi.

Nakes harus melakukan edukasi terhadap masyarakat mengenai tanda gejala, penularan, dan pencegahan infeksi Monkeypox. Nakes harus mendukung dilakukannya contact tracing apabila ada kasus dengan konfirmasi monkeypox untuk menurunkan risiko penyebaran infeksi monkeypox.

Nakes diminta menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap ketika menangani pasien dengan kecurigaan Monkeypox, seperti mengenakan masker, serta membersihkan benda dan permukaan yang telah disentuh pasien.(jpg)