Siswa SMA di Cianjur Dapat Perlakuan Bullying dari Guru

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com- Mendapatkan perlakuan bullying dari seorang guru berinisial SL, salah satu siswi SMA negeri di Kabupaten Cianjur tak mau pergi ke sekolah lagi untuk belajar.

Selain itu Bunga (nama samarannya) juga mendapat perundungan dari teman-temannya.

Bunga diketahui saat ini duduk di kelas 11, ia sejak lahir memiliki tanda lahir hitam di bagian tangannya yang selalu ia sembunyikan dengan jaket almamater.

Kejadian bullying itu berawal dari bertemunya Bunga dengan gurunya SL di lapangan saat sedang memeriksa kerapihan.

SL hendak memeriksa kuku tangan siswi tersebut, namun ditutupi dengan jaket almamater karena di tangan siswi tersebut terdapat tanda hitam.

Ia kemudian memaksa membukanya, padahal teman bunga sudah meminta untuk diperiksa terpisah karena malu dan khawatir mendapatkan ejekan dari teman lainnya.

Sementara itu Ayah Bunga, G tak terima anaknya diperlakukan seperti itu, menurutnya anaknya selalu rajin sekolah dan tak pernah membuat masalah di sekolah.

“Saya tak terima, sekarang tak mau sekolah karena malu sama teman-temannya,” katanya.

G pun menginginkan guru itu minta maaf kepada anaknya di hadapan semua pelajar dan guru.

“Kabarnya akan mendatangi rumah saya. Namun bukan hal seperti itu yang saya inginkan,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil kepala sekolah urusan kesiswaan SMA negeri di Cianjur itu VN, mengatakan guru yang bertugas memeriksa kuku siswi di lapangan tak mengetahui jika RG memiliki tanda lahir hitam yang hampir menutup telapak tangan bagian kanannya.

“Tidak bermaksud memaksa, ini hanya ketidaktahuan petugas kami di lapangan yang memeriksa. Memang kami rutin memeriksa kuku siswa agar tak dikutek dan semacamnya,” paparnya.

Disisi lain Ketua Harian P2TP2A Kabupaten Cianjur, Lydia Indayani Umar mengatakan, orangtua murid itu tidak terima dan saat ini sudah melapor ke Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI Provinsi Jawa Barat.

Pihaknya saat ini sedang melakukan mediasi namun pihak orangtua masih belum dapat menerima.

“Kasus yang sedang kami tangani soal perundungan ada empat. Satu kasus yang menonjol adalah orangtua tak terima anaknya diduga dibully dimuka umum hingga trauma,” pungkasnya. (byu)