Anak Susah Makan Bikin Pusing, Begini Cara Mengatasinya

Dokter anak RS Mayapada Hospital Bogor BMC, dr Resyana Putri Nugraheni, SpA

RADARCIANJUR.com, BOGOR – Kondisi susah makan yang sering terjadi pada anak tak ayal membuat pusing para orang tua. Bahkan terkadang kondisi itu terus berlanjut meski ibu telah berupaya maksimal menyajikan makanan favorit sang anak.

Dokter anak RS Mayapada Hospital Bogor BMC, dr Resyana Putri Nugraheni, SpA menjelaskan kondisi tersebut dinamakan Gerakan Tutup Mulut (GTM). Ia menuturkan pada posisi ini, anak kehilangan nafsu makannya sehingga menolak untuk makan.

GTM banyak terjadi pada usia anak belajar makan yakni 6 bulan – 3 tahun. Meski begitu kondisi ini juga dapat terjadi pada usia remaja hingga orang dewasa.

GTM pada anak dapat disebabkan oleh berbagai kemungkinan. Faktor-faktor penyebabnya antara lain rasa tidak nyaman karena tumbuh gigi, infeksi, dan praktek pemberian makan yang tidak tepat. Faktor praktek pemberian makan yang salah ini menjadi faktor penyebab paling sering ditemukan di Indonesia.

Untuk mengatasi masalah tersebut orang tua perlu mengikuti aturan pemberian makan pada anak. dr. Resyana menjelaskan aturan pemberian makan dibagi menjadi 3 komponen, yakni jadwal, lingkungan, dan prosedur.

Dalam pemberian makan terdapat dua jadwal yaitu makan utama dan selingan. Untuk makan utama 3 kali sehari, makan selingan 1-2 kali sehari, dan boleh diitambah minum susu 2-3 kali sehari.

“Waktu makan anak tidak boleh lebih dari 30 menit. Kemudian jarak antar sesi makan minimal 2 jam. Hal ini dilakukan supaya anak mampu mengenali rasa lapar dan kenyang,” terangnya.
Komponen kedua ialah lingkungan yang harus dibuat menyenangkan. Ini dilakukan dengan sembari mengajak ngobrol anak, duduk di depannya saat menyuapi, dan lakukan kontak mata.

Selain itu lingkungan tempat anak makan juga tidak boleh ada distraksi. Misalnya makan sembari bermain, nonton tv atau gadget. Orang tua juga diimbau untuk tidak menjadikan makanan sebagai hadiah. Sebab kondisi ini akan membuat motivasi makannya berbeda.

Prosedur pemberian makan yang tepat yakni dilakukan dengan mendorong anak untuk makan sendiri. Setelah itu orang tua melihat bagaimana respons sang anak.

Jika anak menunjukkan tanda tidak mau makan dengan menutup mulut, memalingkan kepala, atau menangis maka orang tua diminta untuk kembali menawarkan secara netral dengan cara menyodorkan sendok dengan tidak ada paksaan.

“Apabila selama 10-15 menit tidak mau makan, sesi makan saat itu diakhiri saja. Selama 2 jam setelahnya anak jangan diberikan makan dan susu, hanya boleh air putih saja. Itu akan membuat anak belajar lapar dan kenyang sehingga harapannya anak akan mau makan di sesi makan selanjutnya,” tuturnya.

Makan bukan hanya menjadi proses pemenuhan nutrisi namun juga proses dirinya belajar konsekuensi.

Resyana mengatakan kondisi GTM wajar terjadi pada anak. Namun tidak boleh dibiarkan secara berkelanjutan. Kondisi GTM harus segera ditangani. Karena jika dibiarkan terus menerus berpotensi menyebabkan stunting pada anak. (cr1)