Jawaban Bupati Cianjur Soal Dugaan Angka Perceraian Tinggi Gara-gara Pabrik

Ilustrasi perceraian.(foto:dok)
Ilustrasi perceraian.(foto:dok)

RADARCIANJUR.com-Tinggi angka perceraian di Kabupaten Cianjur dinilai sangat memprihatinkan.

Pasalnya selain kondisi ekonomi, bekerja di luar negeri juga diduga salah satunya banyak kaum hawa juga berbondong-bondong jadi pekerja di sejumlah pabrik di Kabupaten Cianjur.

Berdasarkan data dari https://sipp.pa-cianjur.go.id/statistik_perkara atau web Pengadilan Agama Kabupaten Cianjur jumlah kasus atau perkara Cerai Gugat lebih banyak dilakukan pihak pasangan perempuan dibandingkan kasus Cerai Talak.

BACA JUGA: Bupati Cianjur Herman Suherman Berharap RSUD Sayang Cianjur Raih Akreditasi Paripurna

Faktor dari kasus gugatan tersebut disebabkan ekonomi yang dikarenakan suami tidak menafkahi istri, penghasilan suami lebih kecil dari istri hingga permasalahan rumah tangga yang berujung perceraian.

Dari permasalahan penghasilan banyaknya Cerai Gugat dari pihak istri karena merasa dieksploitasi oleh pasangannya. Disebabkan suami hanya antar jemput istri yang bekerja di pabrik.

BACA JUGA : Instruksi Bupati Cianjur Soal Ketahanan Pangan Manfaatkan Pekarangan Kantor

Sementara saat pulang, suami meminta untuk dilayani secara batin yang kurang mengerti istri karena lelah bekerja. Hal tersebut yang menjadi awal keributan dalam rumah tangga jika komunikasi antar pasangan kurang baik.

Berdasarkan data dari https://sipp.pa-cianjur.go.id/statistik_perkara jumlah statistik perkara hingga bulan Oktober 2022 di Pengadilan Agama Cianjur diantaranya, Cerai Gugat dan Cerai Talak sebanyak 315 kasus.

BACA JUGA : Bupati Cianjur Akan Bangun Jalan Beton Penghubung Cianjur-Bandung Sepanjang 33 Kilometer

Sedangkan jika secara statistik seluruh perkara di Pengadilan Agama Kabupaten Cianjur diantaranya, Perdata Gugatan sisa bulan lalu sebanyak 326 kasus, perkara masuk 315 kasus, putus 340 kasus, mutasi 340 kasus, belum mutasi 0 kasus dan sisa 301 kasus.

Sedangkan untuk klasifikasi Perdata Permohonan sebanyak sisa bulan lalu sebanyak 128 kasus, perkara masuk 50 kasus, putus 137 kasus, mutasi 137 kasus, belum mutasi 0 kasus dan sisa 41 kasus.

Sementara Bupati Cianjur Herman Suherman menjawab tingginya kasus perceraian tinggi salah satu penyebabnya gara-gara istri bekerja di pabrik mengatakan, bahwa pihaknya telah mengeluarkan aturan penerimaan pegawai pabrik di Cianjur, harus menerapkan sistem kuota 50 persen untuk kaum pria.

BACA JUGA : Pengrajin Golok dan Perkakas Pertanian Cidaun Mendapat Perhatian Bupati Cianjur

Hal itu menurut Bupati Cianjur Herman Suherman, sebagai upaya untuk menekan angka perceraian yang masih tinggi setiap tahun. Menurutnya selama ini sebagian besar pabrik yang beroperasi di Cianjur, lebih banyak menerima pegawai perempuan yang berbanding jauh dengan pria. Sehingga banyak kaum pria yang kesulitan mendapatkan pekerjaan dan memilih mengurus anak.

“Sejumlah perusahaan besar pabrik di Kabupaten Cianjur ada pegawainya hingga mencapai 80 persen perempuan, sehingga kuota lowongan kerja untuk pria sangat sedikit, ya dampaknya angka perceraian karena faktor ekonomi meningkat setiap tahun,” terang Bupati Cianjur Herman Suherman beberapa waktu lalu.

Pemerintah daerah akan membuat regulasi untuk mengatur kuota pegawai di pabrik minimal menyiapkan kuota 50 persen untuk pelamar pria dan tidak hanya untuk kaum perempuan. Sehingga saat mereka berumah tangga tidak lagi perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga.

Sementara itu, selain pihak wanita yang bekerja menjadi karyawan pabrik, ada pula wanita yang bekerja ke luar negeri turut menjadi korban eksploitasi. Tidak sedikit penghasilan dari istri yang mengirimkan untuk suami dimanfaatkan dengan baik, atau dalam hal ini tidak bertanggungjawab. Sehingga perasaan dieksploitasi pun muncul.

Makanya dari faktor ekonomi itu merembet, baik ke percekcokan yang berkepanjangan hingga dampak lainnya, intinya kembali ke masalah ekonomi. Ada juga yang karena istrinya berpenghasilan lebih besar, suaminya jadi minder.

Dirinya pun mengimbau, perlu ada peran dari semua pihak dalam menekan angka perceraian di Kabupaten Cianjur seperti dengan membuka lapangan pekerjaan bagi kaum pria dan pelatihan keterampilan, sehingga suami bisa berwirausaha.

(rc/kim)