Hasil Pengamatan, BMKG: Gerhana Bulan Total Bakal Terjadi Selasa Malam

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Fenomena astronomi yakni gerhana bulan total akan terjadi pada Selasa (8/10) malam. Seperti diketahui, gerhana Bulan merupakan peristiwa terhalanginya sinar Matahari oleh Bumi, sehingga tidak semuanya sampai ke bulan, dilihat dari bumi.

Peristiwa yang merupakan salah satu akibat dinamisnya pergerakan posisi Matahari, Bumi, dan Bulan ini hanya terjadi pada saat fase purnama dan dapat diprediksi sebelumnya.

Gerhana bulan total terjadi ketika seluruh bayangan umbra bumi jatuh menutupi bulan, sehingga Matahari, Bumi dan Bulan berada tepat di satu garis yang sama serta mengakibatkan saat puncak gerhana terjadi, Bulan akan terlihat berwarna merah.

“Salah satu tupoksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebagai institusi pemerintah adalah memberikan informasi dan pelayanan tanda waktu, termasuk di dalamnya adalah informasi Gerhana Bulan dan Matahari. Untuk itu, BMKG menyampaikan informasi
Gerhana Bulan Total pada Selasa, 8 November 2022,” ujar Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Bandung, Teguh Rahayu.

BACA JUGA: Pasca Gerhana Bulan, Gelombang Laut Selatan Meningkat

Lanjut Teguh, proses ataufase Gerhana Bulan Total yakni gerhana (P1) dimulai pada pukul 15.00.38 WIB, 16.00.38 WITA dan 17.00.38 WIT. Fase tersebut tidak teramati di wilayah Indonesia.

Selanjutnya, gerhana sebagian  (U1) dimulai pada pukul 16.08.59 WIB, 17.08.59 WITA dan 18.08.59 WIT. Fase tersebut hanya dapat diamati di wilayah Papua, Papua Barat, sebagian Maluku Utara dan sebagian Maluku.

Pada Gerhana Bulan Total (U2) dimulai pada pukul 17.16.19 WIB, 18.16.19 WITA, 19.16.19 WIT. Fase ini hanya dapat di amati di wilayah Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, NTT, NTB, Bali, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, sebagian besar Kalimantan Tengah, sebagian Kalimantan Barat, dan sebagian Jawa Timur.

“Puncak Gerhana teradi pada pukul 17.59.11 WIB, 18.59.11 WITA, 19.59.11 WIT. Fase ini dapat diamati di hampir seluruh wilayah Indonesia kecuali di wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Bengkulu,” ungkapnya.

Sementara pada Gerhana Total berakhir (U3) akan terjadi pada pukul 18.42.03 WIB, 19.42.03 WITA dan 20.42.03 WIT. Fase ini dapat di amati di seluruh wilayah Indonesia.

Gerhana Sebagian berakhir (U4) pada pukul 19.49.22 WIB, 20.49.22 WITA dan 21.49.22 WIT. Fase ini dapat di amati di seluruh wilayah Indonesia. Gerhana berakhir (P4) Gerhana Bulan Total berakhir pukul 20.57.43 WIB, 21.57.43 WITA dan 22.57.43 WIT. Fase ini dapat di amati di seluruh wilayah Indonesia.

“Dengan teknologi informasi, data tersebut langsung dikirim ke server di BMKG Pusat, untuk kemudian disimpan dan disebarluaskan secara online ke seluruh dunia. Pelaksanaan Pengamatan GBT oleh Stasiun Geofisika Bandung,” paparnya.

“Tim Stasiun Geofisika Bandung akan melakukan pengamatan di Halaman Kantor Pos Observasi Geofisika Lembang pada pukul 15.00 WIB hingga selesai menggunakan teropong Vixen Sphinx ED80SF dan masyarakat disekitar lokasi dapat menyaksikan proses gerhana dengan tetap menjalankan protokol kesehatan (menjaga jarak dan memakai masker),” sambungnya.

LIHAT JUGA: BMKG Sebut Ada Potensi Tsunami di Pesisir Selatan Banten

Adanya fenomena Bulan Purnama bersamaan dengan Gerhana Bulan Total pada tanggal 8 November 2022 berpotensi meningkatkan ketinggian pasang air laut maksimum.

Berdasarkan pantauan data water level dan prediksi pasang surut, banjir pesisir (rob) berpotensi terjadi di beberapa wilayah pesisir Indonesia, diantaranya Pesisir Aceh, Pesisir Sumatera Utara, Pesisir barat Sumatera Barat, Pesisir Lampung, Pesisir Kepulauan Riau, Pesisir utara Banten, Pesisir utara DKI Jakarta, Pesisir utara Jawa Barat, Pesisir utara Jawa Tengah, Pesisir selatan Bali, Pesisir Nusa Tenggara Barat, Pesisir Nusa Tenggara Timur, Pesisir Kalimantan Barat dan Pesisir Kalimantan Timur.

“Potensi banjir pesisir (rob, red) ini berbeda waktu (hari dan jam) di tiap wilayah, yang secara umum berdampak pada aktivitas masyarakat di sekitar pelabuhan dan pesisir, seperti aktivitas bongkar muat di pelabuhan, aktivitas di pemukiman pesisir, serta aktivitas tambak garam dan perikanan darat,” terangnya.

Masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan siaga untuk mengantisipasi dampak dari Pasang Maksimum Air Laut serta memperhatikan update informasi cuaca maritim dari BMKG.

“Jika dari penjelasan secara astronomis, pengaruh posisi bulan terhadap lautan di permukaan bumi menjadi faktor utamanya. Untuk peristiwa purnama ini, efek diferensial gravitasi bulan lebih kuat di laut utara Jabar dibandingkan Selatan Jabar. Hal ini berbeda ketika rob pada bulan baru, sekitar bulan Mei yang lalu. Dimana rob lebih berpengaruh di pesisir Selatan Jabar dibandingkan pesisir Utara Jabar,” tutupnya. (kim)