Hotel di Cianjur Belum Semua Gunakan Set Top Box, PHRI: Pengadaan Harus Tambah Biaya

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) BPC Kabupaten Cianjur, Nano Indrapraja. Foto: Dadan Suherman/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Bagi masyarakat yang biasa melancong, tentu tak asing dengan alat Set Top Box atau STB. Pasalnya, beberapa hotel sudah menggunakan STB. Akan tetapi, tak sedikit juga belum menggunakan, terlebih hotel dengan predikat di bawah bintang tiga.

“Beberapa hotel atau yang berbintang tiga ke atas itu biasanya sudah menggunakan dan juga hotel baru sudah. Tapi kalau hotel lama, ada yang masih belum, karena melihat juga tipe tamu yang datang dan juga kalau melakukan pengadaan alatnya, itu akan mengeluarkan biaya tambahan juga. Terlebih sekarang masih dalam pemulihan ekonomi,” kata Ketua Persatuan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) Kabupaten Cianjur, Nano Indrapraja.

Namun, pihaknya secara rinci belum memiliki data terkait berapa banyak anggotanya yang telah menggunakan Set Top Box. Pasalnya bukan merupakan bagian dari PHRI Kabupaten Cianjur.

BACA JUGA: Belum Punya STB? Cek di Sini Cara Pengajuan STB Gratis

Salah satunya yang telah menerapkan itu adalah Casa Monte Rossa hotel yang sudah memasang alat STB dari sebelum adanya penerapan dari Pemerintah Pusat.

“Alhamdulillah kita sudah pasang sebelum ada pengumuman dari Pemerintah Pusat. Hampir di seluruh kamar hotel,” terang Marcom Hotel Casa Monte Rossa, M Iqbal.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Unsur Cianjur, Irfan Jamil menilai, pemberlakuan penggunaan STB di kalangan masyarakat dinilai belum tepat. Lantaran saat ini masyarakat masih pemulihan pasca pandemi yang menerjang dua tahun sebelumnya.

LIHAT JUGA: Warga Cianjur Masih Buru Alat TV Analog, Set Top Box Belum Mencolok

“Sebetulnya belum tepat, karena apa? Kita belum setahun pemulihan ekonomi, masyarakat sudah dibebani dengan pembelian alat STB. Tentu hal tersebut membuat masyarakat lebih memilih mengeluarkan uang untuk kebutuhan,” jelasnya.

“Selain itu, tayangan televisi salah satu hiburan yang murah bagi masyarakat, apalagi di daerah. Menurut saya, jangan dipersulit terlebih alatnya cukup mahal,” sambungnya.

Lanjut Irfan, dirinya menyarankan, jika memang program ini merupakan arah menuju digitalisasi, alangkah bijaknya ada program khusus pengadaan STB kepada masyarakat yang kurang mampu.

“Kalau bisa bisa dipermudah dari segi harga, atau juga bisa diadakan subsidi untuk pembelian STB yang sekiranya terjangkau untuk masyarakat,” tutupnya. (kim)