Pengusutan Perkara Tragedi Kanjuruhan Jauh dari Kata Tuntas

DOA DAN KENANGAN: Soerang pengunjung melihat spanduk rangkuman tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, kemarin (9/11). Tragedi tersebut merenggut 135 nyawa. (ROBERTUS RISKY/JAWA POS)

RADARCIANJUR.com – 40 hari sudah sejak tragedi pecah di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, pada 1 Oktober lalu. Belum ada penambahan tersangka tragedi Kanjuruhan dari yang telah diumumkan sebelumnya.

Serangkaian karya seni pun lahir untuk turut mengingatkan agar tragedi ini diusut tuntas. Demi keadilan untuk 135 nyawa yang jadi korban, juga demi tidak terulangnya tragedi ini.

BACA JUGA : Bertambah, Total Korban Meninggal Tragedi Kanjuruhan Menjadi 134 Jiwa

Hingga hari ini, pengusutan perkara masih jauh dari kata tuntas. Baru ada enam tersangka yang ditetapkan penyidik Polda Jawa Timur. Berkas perkaranya pun belum lengkap.

Awal pekan ini, jaksa peneliti pada Kejaksaan Tinggi Jatim mengembalikan tiga berkas enam tersangka kasus tragedi Kanjuruhan kepada penyidik Polda Jatim. Di dalam petunjuknya (P-19), jaksa meminta penyidik agar melengkapi kekurangan syarat formil dan materiil terhadap unsur-unsur pasal yang disangkakan. Sebagaimana diketahui, para tersangka dijerat Pasal 359 dan 360 KUHP tentang kelalaian yang mengakibatkan orang lain meninggal dan mengalami luka berat.

Kasipenkum Kejati Jatim Fathur Rohman menolak memerinci petunjuk yang diberikan kepada penyidik. Alasannya sudah masuk materi perkara. Dia hanya mengungkapkan bahwa jaksa peneliti meminta penyidik untuk mendalami kasus tersebut.

BACA JUGA : Ketum PSSI Iwan Bule Akhirnya Meminta Maaf Atas Tragedi Kanjuruhan

Kabidhumas Polda Jatim Kombespol Dirmanto secara terpisah menyatakan bahwa petunjuk jaksa dalam pemenuhan. ”Saat ini petunjuknya sedang ditindaklanjuti,” ujarnya kepada Jawa Pos (Grup Radar Cianjur) kemarin (9/11).

Dirmanto juga tidak memerinci petunjuk jaksa yang tengah dikerjakan penyidik. Sebab, detailnya berkaitan dengan materi perkara. Dia hanya memastikan bahwa perkara itu diproses secara profesional. Tidak ada tebang pilih. ”Nanti pasti disampaikan ketika ada perkembangan,” ujarnya.

Mantan Kabidhumas Polda Kalimantan Barat itu menambahkan, sejauh ini penyidik sudah memeriksa 129 orang. Mereka antara lain berasal dari PSSI, PT LIB, panpel, sampai suporter. ”Sebanyak 14 saksi adalah ahli dari berbagai bidang,” kata perwira polisi asal Jogjakarta tersebut.

Mengenai potensi penambahan tersangka, Dirmanto memilih jawaban diplomatis. Hal itu bergantung pada penyidikan. ”Hingga saat ini masih berlangsung. Penyidikan kan sifatnya dinamis,” terang dia.

Demikian juga pemanggilan para saksi yang lain. Semua bergantung pada kebutuhan penyidik. ”Yang jelas akan diusut secara tuntas,” tegasnya.

Aksi Aremania

Proses hukum tragedi Kanjuruhan yang cenderung lambat membuat Aremania kecewa. Karena itu, hari ini (10/11) Aremania kembali turun ke jalan untuk mendesak tragedi Kanjuruhan diusut tuntas. Massa yang terlibat bakal lebih besar daripada dua aksi sebelumnya.

Aremania dari seluruh Indonesia dipastikan bergabung. Aksi akan dimulai dari Stadion Gajayana, Malang. Puncaknya diperkirakan dilakukan di Balai Kota Malang.

Anggota Sekretariat Tim Gabungan Aremania Moch. Farhan mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan seluruh koordinator wilayah Aremania. Baik di Malang maupun di luar kota. ”Untuk keamanan bersama, dilarang membawa senjata tajam, miras, dan barang-barang berbahaya lainnya serta menjaga ketertiban bersama,” jelasnya.

Tidak sekadar long march, Aremania bakal melakukan aksi teatrikal. ”Akan ada 135 keranda mayat sesuai dengan jumlah korban meninggal dalam tragedi Kanjuruhan,” ungkap dia.

Sejumlah poin tuntutan disampaikan dalam aksi hari ini. Pertama, menuntut agar segera ditetapkan tersangka baru tragedi Kanjuruhan. ”Terutama para pelaku yang menembakkan gas air mata. Yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya meminta proses hukum segera dituntaskan. Dibuka dengan gamblang tanpa ada yang ditutupi. ”Kami juga ingin tragedi Kanjuruhan dijadikan sebagai pelanggaran HAM berat,” tegasnya.

Pada bagian lain, Tim Gabungan Aremania sudah menerima laporan dari 60 orang terkait dengan tragedi Kanjuruhan. Laporan itu rencananya dijadikan bahan untuk laporan ke pihak kepolisian.

Anggota Tim Hukum Gabungan Aremania Anjar Nawan Yusky menuturkan, laporan dari 60 orang itu akan dibagi menjadi beberapa kelompok untuk memudahkan pelaporan. Meski begitu, laporan tidak akan dilakukan secara individu. ”Teknisnya, tidak semua dari 60 orang itu masing-masing akan melapor. Dari 60 itu, akan kita bagi. Kategori meninggal berapa, luka berapa, dan anak-anak berapa,” jelasnya.

Dia menambahkan, pelaporan bakal mengikuti perkembangan situasi terkini. Bisa saja laporan tidak diberikan ke kepolisian daerah atau Polda Jatim. ”Ada opsi rencana ke Mabes Polri,” katanya.

Timnya juga sudah mengantongi sejumlah bukti. Bukti-bukti itu juga akan melengkapi bahan laporan ke kepolisian. ”Keluhan lain seperti sakit atau sesak napas sampai sekarang masih ada. Kemudian, hasil rontgen juga ada dari yang menderita patah tulang. Nanti kami masuk lewat data-data itu,” tuturnya.

Sebelum menyampaikan laporan, Tim Gabungan Aremania akan meminta perlindungan korban dan saksi kepada LPSK. Anjar segera menjalin komunikasi mengenai hal tersebut. ”Dari sekian orang yang sudah memberikan kuasa kepada kami, kami mohonkan perlindungan kepada LPSK,” ungkapnya.

Sementara itu, dilansir dari Radar Malang, dalam kegiatan 40 hari tragedi Kanjuruhan, Ketua KNPI Kabupaten Malang Zulham Akhmad berharap proses hukum bisa ditegakkan seadil-adilnya. Mengingat, ada 135 korban yang meninggal. Plus 1 anak dari korban tragedi Kanjuruhan yang meninggal karena mengalami shock syndrome.

Selain Zulham, Wakil Bupati Malang Didik Gatot Subroto menyampaikan hal senada. Dalam sambutannya, dia berharap Allah SWT membukakan aib yang saat ini belum terang. ”Berharap semua diberi kekuatan dan kesehatan untuk terus mengawal proses hukum yang sedang berlangsung. Saksi bisu yang ada di depan kita segera terbuka,” katanya. Didik mengingatkan, tahlil dan doa dikhususkan kepada para korban agar menjadi syuhada suporter bola.

Kapolres Malang AKBP Putu Kholis Aryana tak banyak bicara di depan ribuan Aremania. Dia hanya bisa menunduk sembari tiga kali meminta maaf atas musibah pada 1 Oktober 2022. ”Saya memohon maaf, saya memohon maaf, saya memohon maaf. Kami akan membenahi dan memperbaiki diri,” ucapnya.(jawapos)