Kisah Pilu Dibalik Kemegahan Alun-Alun, Ternyata Ada Jamalun yang Digantung Dalem Cianjur

Alun-alun Cianjur.(Foto:Umar Saripudin/Radar Cianjur)
Alun-alun Cianjur.(Foto:Umar Saripudin/Radar Cianjur)

RADARCIANJUR.com – Kemegahan Alun-Alun Kabupaten Cianjur begitu dikagumi oleh masyarakat Kabupaten Cianjur. Alun-alun kebanggaan tersebut menjadi sarana wisata lokal bersama keluarga dalam menghabiskan waktu akhir pekan maupun di waktu senggang.

Di atas lahan seluas kurang lebih tiga hektar are (ha) tersebut, berdiri berbagai bangunan dengan nilai filosofi budaya lokal yang menggambarkan tiga pilar budaya yakni Ngaos, Mamaos dan Maenpo.

Akan tetapi, di atas kemegahan dan kebanggaan tersebut, terdapat cerita rakyat yang cukup memilukan. Dalam kisahnya, Alun-Alun Cianjur pernah menjadi tempat eksekusi masyarakat yang bernama Jamarun pada zaman Pemerintahan Dalem Cianjur.

BACA JUGA: Alun-alun Cibeber Segera Ditata Ratusan Juta

Kisah tersebut tertuang dalam penggalan syair Bahasa Sunda yakni Jamarun Paeh Digantung di Alun-Alun (Jamarun Mati Digantung di Alun-Alun).

Semua bertanya dan menjadi misteri pembuat syair tersebut. Tak ada satu pun mengetahui asal muasal syair yang menjadi kisah tragis Jamarun pemancing yang digantung.

Kejadian eksekusi mati dengan digantung tersebut berawal ketika Jamarun akan memancing di Sungai Cianjur dan menemukan mayat yang tergeletak di bibir sungai.

Sontak, Jamarun yang panik berteriak dan memanggil warga sekitar serta memanggil polisi Kedaleman. Mayat yang ditemukan dibawa ke Pendopo Cianjur untuk diselidiki atas perintah Dalem.

LIHAT JUGA: Bupati Cianjur Klaim HSN di Alun- Alun Terlama Se-Indonesia

Berbagai upaya mencari tersangka dilakukan hingga berhari-hari. Namun, penemuan mayat di pinggir Sungai Cianjur pun menjadi misteri.

Akan tetapi, Jamarun harus kena getahnya. Tuduhan pembunuhan pun ditujukan kepada Jamarun yang seharusnya mendapatkan ikan namun harus menerima dakwaan dari polisi Dalem Cianjur.

Seiring berjalannya waktu, persidangan digelar dengan terduga Jamarun hingga akhirnya didakwa dan divonis hukuman gantung.

Tidak langsung dieksekusi, Jamarun menjalani masa hukuman terlebih dahulu dalam tahanan. Istri jamarun pun membesuk. Bahkan, sebelum digantung, Jamarun sempat menitipkan pesan agar dibuatkan tasbih dari biji kanyere untuk diberikan kepada Dalem Cianjur.

BACA INI: Ketua HWC: Jaga Seni Budaya, Generasi Muda Harus Tetap Setia

Hingga tiba waktunya Jamarun melaksanakan hukuman gantung. Di tengah Alun-Alun Cianjur, algojo dan tiang gantungan menanti Jamarun yang digiring dari penjara menuju tempat eksekusi.

Hukuman Jamarun turut disaksikan oleh ratusan pasang mata masyarakat Cianjur saat itu. Dengan mata ditutup, Jamarun bersiap untuk digantung.

Hembusan nafas terakhir. Jamarun mati di tengah Alun-Alun Cianjur. Teriakan dan isak tangis keluarga mengiringi kepergiannya. Semerbak wangi datang tanpa diundang saat jenazah Jamarun akan dimakamkan. Tasbih yang menjadi pesan terakhir diserahkan kepada Dalem Cianjur.

“Kisah Jamarun, pemancing yang digantung seperti sebuah cerita rakyat, itu menjadi sebuah misteri hingga kini. Semua pun tidak mengetahui siapa yang menceritakan awal kisah tersebut. Seperti kisah Sunda lainnya seperti Si Kabayan dan lainnya, sehingga perlu ditelusuri lebih mendalam,” ujar Budayawan Cianjur, Abah Ruskawan. (kim)