Begini Cara Menjernihkan Air Sungai yang Keruh

RADARCIANJUR.COM- Pusat Pemberdayaan Perdesaan (P2D) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITB melakukan sosialisasi mengenai pembuatan constructed wetland (lahan basah buatan) sebagai suatu cara untuk mengolah air sungai sebelum digunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga. Lokasi yang dipilih menjadi tempat prototipe instalasi ini terletak di Kampung Tarikolot, Desa Cinangsi, Cikalongkulon, dan sosialisasi pada masyarakat setempat diadakan pada hari pada Minggu (20/11).

Dalam acara sosialisasi tersebut, beberapa perwakilan warga dan dari pihak desa turut hadir dan langsung melihat tata cara menjernihkan air yang keruh hingga menjadi bersih dan layak digunakan.

Prototipe Instalasi penjernih air sungai ini terdiri dari bak filter, bak lahan basah dan bak pengontrol. Air sungai yang kotor pertama akan disaring melalui filter yang terdiri dari material seperti silaka, zeolite, batu apung dan dakron, selanjutnya air dilalukan ke bak lahan basah buatan dengan media yang tesusun dari kerikil, arang, ijuk, dan zeolite dan diatasnya diberi tanaman-tanaman lahan basah seperti Typha (lembang), Canna (bunga tasbih) dan Cyperus (rumput payung) untuk membantu menjernihkan air sungai. Sistem perakaran tumbuhan lahan basah mambantu menyerap senyawa organik dan anorganik dari air sungai sehinga air akan menjadi lebih bersih.

Dr. Tri Desmana Rachmildha selaku ketua P2D-ITB menuturkan bahwa air sungai mengandung limbah orgaik dan anorganik dari limbah industri, pertanian dan limbah rumah tangga, sehingga apabila akan digunakan oleh warga untuk keperluan MCK, sebaiknya airnya diolah terlebih dahulu dalam instalasi lahan basah yang ramah lingkungan dan murah ini. Air sungai yang tidak diolah terlebih dahulu dapat menyebabkan berbagai penyakit terutama penyakit kulit (gatal-gatal, alergi dll) dan saluran pencernaan.

“Sebenarnya, air sungai yang tercemar tidak boleh dimanfaatkan langsung oleh warga, demikian juga limbah yang keluar dari rumah warga itu sebaiknya tidak langsung dialirkan ke sungai tapi itu dijernihkan terlebih dahulu dalam instalasi yang sederhana ini. Nah ini kita bikin satu prototipe instalasi penjernihan itu yang bekerja secara alamiah dan murah,” ucapnya.

Pembuatan constructed wetland ini dipimpin oleh Dr. Endra Susila dan Dr. Taufikurahman. Tim juga dibantu oleh beberapa asisten alumni SITH-ITB dan beberapa mahasiswa dari prodi Teknik Sipil ITB. Dalam proses ini mahasiswa ikut serta dalam merancang instalasinya dan membuat buku petunjuk pembuatan instalasi constructed wetland ini yang saat ini telah dibuat di Desa Cinangsi yang nanti diharapkan bisa ditiru oleh warga setempat.

Menurut Dr. Endra Susila, fungsi dari constructed wetland yaitu bisa menyaring kotoran dan zat pencemar yang ada di aliran sungai, namun air dari proses penyaringan ini belum bisa langsung diminum, tetapi sudah cukup baik untuk digunakan bagi keperluan MCK, kolam ikan dan hidroponik. Dr. Taufikurahman dan beberapa mahasiswa juga menjelaskan teknik pembuatan instalasi penjernih air tersebut dan juga perawatannya yang telah dituangkan dalam bookletyang mereka buat dan dibagikan kepada warga setempat.

Biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan instalasi ini tergantung pada skala dan bahan yang digunakan, bisa sangat murah karena bahan-bahan yang digunakan untuk filter hanya menghabiskan dana dibawah 1 juta rupiah untuk skala 1m3, sedang untuk pembuatan kolam-kolamnya dapat menggunakan semen dengan dana dibawah Rp 5 juta rupiah total, dan biaya bisa ditekan bila menggunakan galian tanah yang dilapisi plastik atau dengan container plastik.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa proses penyaringan terbukti bekerja denan baik, air yang dihasilakan lebih jernih setelah melalui instalasi. (may)