Kisah Mak Eha, Warga Cugenang Merangkak-rangkak Selamatkan Diri Saat Gempa Cianjur

MASIH SYOK: Mak Eha terbaring lemas di salah satu lorong poli RSUD Cianjur tadi malam. Ia tak menyangka gempa kemarin membawa duka mendalam bagi keluarga.

RADARCIANJUR.com – Panik bukan kepalang. Itulah yang pertama kali dirasakan oleh Eha (70) warga Desa Cugenang, Kecamatan Cugenang Kabupaten Cianjur saat pertama kali gempa 5,6 magnitido mengguncang kediamannya. Meski terlambat keluar rumah, Eha masih selamat dan kini dirawat di RSUD Cianjur.

Laporan: ABDUL AZIZ N HAKIM, Cianjur

SIANG kemarin, Eha tengah berada di ruang tamu kediamannya. Terdapat empat orang yang berada di dalam rumah.

Tiba-tiba saja, gempa mengguncang. Tubuhnya yang renta membuat Eha sedikit terlambat untuk menyelamatkan diri.

BACA JUGA : Korban Jiwa Akibat Gempa Cianjur Tembus 162 Orang

Kepala penuh rambut putihnya akhirnya berdarah tertimpa atap rumah. Sesaat setelah selamat, dengan pilu, Eha menoleh ke belakang melihat kediamannya yang kini rata dengan tanah.

Ia masih ingat detik-detik kejadian kemarin. Saat kejadian, dirinya merangkak sedikit demi sedikit agar bisa selamat. Setelah berhasil keluar, dirinya diselamatkan salah seorang warga dan dievakuasi ke tempat yang lebih aman yakni di sawah sekitar rumahnya.

Tak berselang lama, dirinya pun diboyong ke RSUD Cianjur untuk mendapatkan perawatan luka pada bagian kepala. Selain bagian kepala, kaki dan punggung tak luput dari bekas tertimbun bangunan yang roboh.

Nampaknya, di RSUD Sayang, Cianjur bukan hanya dirinya saja yang harus mendapatkan perawatan. Ratusan masyarakat Cianjur hilir mudik berdatangan untuk mendapatkan bantuan medis.

BACA JUGA : BMKG Ungkap Alasan Cianjur Sering Terjadi Gempa Dahsyat

Dengan alas karpet tipis di lorong poli. Badannya yang kurus dan tak lagi muda, hanya dibalut dengan kain sarung untuk menahan dinginnya malam serta lantai rumah sakit. Dirinya mendapatkan perawatan medis bersama dengan masyarakat Cianjur lainnya. Tangisan dan jeritan mewarnai setiap lorong rumah sakit.

Sang anak, Lia (40) menceritakan ketika gempa terjadi, dirinya bersama anggota keluarga lainnya tengah berada di dalam kamar. Sementara Eha berada di ruang tengah rumah. Dengan berdarah-darah, ibunya merayap keluar. Sementara ia dan anggota keluarga lainya keluar melalui atap kamar.

“Kaki ditarik setelah kejadian gempa, keluar sendiri menerobos tumpukan dengan merangkak. Padahal sudah tertimpa kayu. Kita susah keluar juga, karena posisinya dari kamar. Kita keluar lewat atap rumah,” ujarnya.

Eha pun belum merasa tenang, lantaran masih memikirkan anaknya yang entah bagaimana kondisinya. Bahkan, saat akan menuju rumah sakit pun sedikit kesulitan dikarenakan masyarakat bersusah payah melakukan evakuasi.

Satu hari sebelum kejadian, Lia memiliki firasat aneh. Ketika memasak nasi, dari dzuhur hingga maghrib, nasi yang dimasak belum kunjung matang. Pada bagian bawah sudah menjadi bubur, sementara di bagian bawah sudah setengah matang.

Lia pun bertanya kepada ibunya mengenai kejadian aneh tersebut. Hingga tidak menghiraukan nasi yang matang tidak merata. Namun, sebelum bencana gempa bumi besar terjadi, beberapa kali sempat merasakan adanya gempa tapi tidak sebesar pada Senin (21/11) siang.(**)